SEPUTARFAKTA, BANGKA TENGAH – Keluhan masyarakat terkait distribusi Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi kembali mencuat. Weli, warga Desa Kulur, Kecamatan Lubuk Besar, mengaku resah melihat harga Pertalite eceran yang kini mencapai Rp14.000 per liter, jauh di atas harga resmi yang ditetapkan pemerintah.
Menurutnya, lonjakan harga di tingkat pengecer tidak terlepas dari maraknya aktivitas pembelian BBM subsidi menggunakan kendaraan bertangki modifikasi yang diduga masih bebas beroperasi di sejumlah SPBU di Kabupaten Bangka Tengah.
“Ini sudah kelewatan. Pertalite eceran sekarang ada yang jual sampai Rp14 ribu per liter. Masyarakat kecil yang jadi korban. Harusnya aparat jangan tutup mata,” kata Weli kepada wartawan, Jumat siang (3/7/2026).
Ia menilai kondisi tersebut semakin diperparah dengan panjangnya antrean kendaraan yang diduga digunakan untuk mengangkut BBM subsidi dalam jumlah besar. Akibatnya, masyarakat yang benar-benar membutuhkan BBM untuk keperluan sehari-hari harus rela mengantre lebih lama.
SPBU Nibung dan Berok Disorot
Berdasarkan pantauan langsung bahkan telah memviral di medsos sebelumnya, aktivitas kendaraan roda dua dengan tangki modifikasi masih terlihat mendominasi antrean di sejumlah SPBU, terutama di wilayah Desa Nibung dan Berok, Kecamatan Koba.
Warga menilai keberadaan para pengerit BBM subsidi tersebut membuat distribusi Pertalite tidak lagi tepat sasaran. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang mengaku kesulitan mendapatkan BBM subsidi karena stok cepat habis.
“Kami sering lihat motor yang tangkinya sudah dimodifikasi antre berulang kali. Masyarakat biasa malah harus menunggu lama atau tidak kebagian,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Kondisi ini memunculkan dugaan adanya rantai distribusi BBM subsidi yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, mulai dari tingkat SPBU hingga ke pengecer.
Minta Aparat Bertindak Tegas
Weli mendesak aparat penegak hukum, pemerintah daerah, Pertamina, serta instansi terkait untuk melakukan pengawasan lebih ketat terhadap distribusi BBM subsidi.
