oleh : Muhammad Alfathan
FAKTA BERITA, OPINI — antrean panjang kendaraan disejumlah SPBU di bangka Belitung dalam beberapa hari terakhir kembali mengingatkan kita pada satu kenyataan pahit : daerah kepulauan seperti babel selalu berada di titik paling rentan dalan rantai distribusi energi nasional. dibelitng, antrian dipicu keterlambatan karena kapal pengangkut bbm akibat cuaca buruk. di Bangka Tengah, penyebabnya berbeda lonjakan permintaan masyarakat yang diperparah panic buying, dua peristiwa ini terjadi hampir bersamaan, namun akar masalahnya sama sistem distribusi BBM di Babel tidak punya bantalan yang cukup untuk menyerap guncangan sekecil apa pun.
namun justru disinilah titik letak masalahnya, jika ganguan sekecil keterlambatan kapal selama beberapa hari saja sudah cukup membuat masyarakat mengantri panjang hingga viral di media sosial, itu artinya margin keamanan pasokan BBM di Babel sangat tipis. kita hidup di provinsi Kepulauan yang 100% bergantung pada jalur laut untuk pasokan energi. tidak ada jalur darat alternatif, tidak ada pipa distribusi antarwilayah. begitu cuaca memburuk atau kapal terlambat, dampaknya langsung terasa di tangki motor masarakat.
disisi lain, kasus di Bangka Tengah menunjukkan hal yang tak kalah penting, sebagian dari kelakaan ini sesungguhnya kita ciptakan sendiri. ketika muncul kabar antrean, respon refleks masyarakat adalah ikut mengantri dan mengisi penuh tangki, bahkan menimbun dalam jerigen yang justru mempercepat kekosongan stok harian di SPBU.
