FAKTA BERITA, JAKARTA – Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Pulau Gelasa, Kabupaten Bangka Tengah, kembali menuai sorotan publik. Sejumlah kalangan menilai wacana itu terlalu riskan bagi masyarakat Bangka Belitung.
Peneliti dan penulis buku, Novita Sari Yahya, menegaskan Indonesia belum saatnya membangun PLTN. Menurutnya, kondisi bangsa masih rentan terhadap provokasi, ancaman terorisme, hingga lemahnya keamanan siber yang menjadi aspek penting dalam pengoperasian teknologi nuklir.
“Segala sesuatu teknologi pasti menggunakan keamanan siber yang tinggi. Kalau negara kita masih lemah, bagaimana bisa menjamin keamanan nuklir? Rusia, Jepang, dan Amerika bisa mengelola nuklir karena kontrol negaranya kuat. Indonesia belum sampai ke sana,” ujar Novita. Minggu (21/9/2025).
Ia menambahkan, Indonesia sejatinya memiliki potensi energi terbarukan yang melimpah, mulai dari angin, matahari, biofuel, hingga panas bumi. Menurutnya, energi-energi tersebut cukup untuk mewujudkan kemandirian energi tanpa harus mengambil risiko besar lewat PLTN.
Senada, Abdul Haris, Juru Kampanye TUK Indonesia, menyebut rencana pembangunan PLTN tidak sejalan dengan visi misi Presiden Prabowo.
“Dalam hasta karya, tidak ada PLTN. Yang ada adalah energi angin, matahari, panas bumi, biofuel, dan sumber energi biru lain. Investasi swasta harusnya ikut perencanaan negara, bukan justru berseberangan,” tegas Haris.
