Cece Dessy, Rumah Bagi Suara Perempuan Pangkalpinang

FAKTA BERITA, PANGKALPINANG — Di sebuah sudut kampung di Kelurahan Ampui, seorang ibu rumah tangga bernama Yani duduk bersila bersama puluhan perempuan lainnya. Mereka tidak sedang menghadiri arisan atau pengajian rutin, tapi sebuah pertemuan kecil yang terasa hangat—bukan karena formalitas politik, tapi karena hadirnya sosok yang mereka percaya.

Cece Dessy, begitu warga mengenalnya. Calon Wakil Wali Kota Pangkalpinang nomor urut 3 ini datang bukan dengan janji muluk atau orasi berapi-api, melainkan dengan telinga yang terbuka dan hati yang peka. Ia mendengarkan satu per satu keluhan warga—tentang harga sembako, akses kesehatan ibu-anak, hingga mimpi sederhana mereka ingin anak-anaknya bisa sekolah dengan tenang.

“Cece itu beda. Dia datang bukan buat pencitraan. Dia dengar, dia tanggapi. Kalau bisa langsung dijawab, dijawab. Kalau belum bisa, dia catat dan bilang, nanti saya carikan jalan,” ucap Yani, dengan nada penuh harap.

Di setiap titik kampanye, pemandangan yang sama terulang. Emak-emak mengerubungi, lansia memeluk, anak-anak menggenggam tangannya dengan lugu. Bukan karena kamera atau sorotan media, tapi karena mereka merasa ada kedekatan yang tulus. Seolah Cece bukan calon pejabat, tapi bagian dari keluarga besar mereka.

“Saya tidak ingin hadir hanya sebagai simbol perempuan di politik. Saya ingin jadi jembatan agar suara para ibu, perempuan muda, dan anak-anak sampai ke meja pengambilan keputusan,” ujar Cece Dessy dalam salah satu kampanye dialogisnya di Kecamatan Girimaya.

Perjalanan Cece bukan sekadar soal politik. Ia membawa cerita panjang sebagai perempuan yang aktif di kegiatan sosial, turun ke komunitas, mendampingi ibu-ibu dalam pelatihan UMKM, hingga menginisiasi ruang-ruang edukasi keluarga berbasis lokal.

Ia percaya, kehadiran perempuan di pemerintahan bukan hanya penting, tapi mendesak. Terutama dalam isu-isu rumah tangga, perlindungan anak, kesehatan ibu-anak, dan pendidikan keluarga—hal-hal yang selama ini kerap dinomorduakan dalam skala prioritas pembangunan.

“Selama ini suara emak-emak sering hanya didengar saat kampanye. Setelah itu dilupakan. Saya tidak mau begitu,” ucapnya lagi, dengan wajah yang tak bisa menyembunyikan kejujuran niat.

Data Komnas Perempuan mencatat, selama pandemi dan pascapandemi, perempuan mengalami beban ganda. Mereka tidak hanya mengurus rumah tangga, tapi juga menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Namun, dalam banyak kebijakan, suara mereka kerap tak terdengar. Di sinilah Cece merasa harus hadir.

Fatimah, tokoh perempuan di Kecamatan Girimaya, mengatakan hal serupa. “Kami percaya Cece bukan hanya bisa bicara, tapi bisa bekerja. Dia punya keberanian, punya kedekatan, dan yang paling penting, dia punya empati.”

Di tengah kontestasi yang dipenuhi adu slogan dan program teknokratis, Cece hadir dengan pendekatan berbeda. Ia tidak membangun jarak dengan rakyat, justru merapat, menyatu, dan mendengarkan. Ia tidak bicara soal “mengatur”, tapi “mengurus”—dan itu, bagi warga, adalah bahasa yang paling mereka pahami.

Dengan langkahnya yang tenang, suara lembut tapi tegas, dan mata yang tak pernah lepas dari lawan bicara, Cece Dessy pelan-pelan menanamkan pesan: bahwa perempuan tidak datang ke panggung politik untuk menyaingi, tapi untuk melengkapi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *