FAKTA BERITA, BANGKA SELATAN – Tim Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan dan Keagamaan dalam Masyarakat (Pakem) Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, akan segera melakukan verifikasi lapangan terhadap dugaan kelompok aliran sesat.
Wakil Ketua Tim Pakem Kabupaten Bangka Selatan, Evi Sastra, mengungkapkan bahwa hasil deteksi awal menunjukkan adanya indikasi beberapa aliran keagamaan di sejumlah desa yang diduga menyimpang dari ajaran keagamaan yang telah ditetapkan.
Oleh karena itu, pihaknya akan turun langsung untuk memverifikasi kebenaran aktivitas kelompok tersebut.
Langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan konflik dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kami saat ini masih menggali informasi tentang aliran kepercayaan yang menyimpang di tengah masyarakat,” ungkapnya pada Senin (30/6/2025).
Selain itu, untuk mencegah penyebaran paham radikal dan aliran sesat di Bangka Selatan, Tim Pakem secara masif berkoordinasi dengan pemangku kepentingan terkait. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi agar tidak mengganggu stabilitas, kerukunan umat beragama, serta situasi keamanan dan ketertiban masyarakat.
Lokus dugaan aktivitas yang terindikasi menyimpang sudah dikantongi dan tinggal dilakukan pengecekan lapangan.
“Kami akan mendatangi langsung lokasi-lokasi tersebut untuk meluruskan bersama-sama dengan masyarakat, tokoh agama, serta kepala desanya,” kata Evi.
Berdasarkan hasil rapat koordinasi, Evi Sastra melanjutkan, hampir 90 persen wilayah di Kabupaten Bangka Selatan aman dari paham maupun ajaran keagamaan menyimpang.
“Kalau secara umum Basel aman, karena peran aktif Pengurus Pakem dalam melakukan pengawasan terhadap munculnya aliran kepercayaan yang menyimpang,” tambahnya.
Meskipun demikian, Evi Sastra mengimbau masyarakat agar lebih selektif dalam memahami aliran maupun pemahaman yang ada saat ini.
Masyarakat harus lebih fleksibel dalam pemahaman keagamaan sejalan dengan konsep moderasi beragama, yang menekankan pada keseimbangan dan keadilan dalam menjalankan ajaran agama. Hal ini bertujuan untuk menghindari ekstremisme dan fanatisme yang dapat memicu konflik.
“Pemahaman yang berbeda yang mungkin tidak lazim belum tentu menyimpang. Masyarakat harus lebih selektif,” tegasnya.
