FAKTA BERITA, PANGKALPINANG – Angka stunting di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2025 tercatat sebesar 3,46 persen atau sebanyak 3.178 balita berdasarkan pelaporan aplikasi SigiziKesga, meningkat 0,31 persen dibandingkan tahun 2024.
Data tersebut dihimpun dari hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan balita yang dilakukan secara rutin di Posyandu, PAUD, dan fasilitas pelayanan kesehatan di seluruh wilayah Bangka Belitung. Dari tujuh kabupaten/kota, Kabupaten Belitung mencatat angka stunting tertinggi yakni 8,89 persen, disusul Bangka Barat 7,88 persen, Belitung Timur 6,24 persen, Bangka Tengah 2,41 persen, Pangkalpinang 1,79 persen, Bangka Selatan 1,44 persen, dan Kabupaten Bangka menjadi daerah dengan angka terendah sebesar 1,08 persen.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, dr. Ria Agustine, menjelaskan kenaikan angka stunting ini perlu dilihat secara komprehensif, tidak semata sebagai kegagalan program kesehatan.
“Pada tahun 2025 terjadi kenaikan sebesar 0,31 persen atau sekitar 170 anak dibandingkan tahun 2024. Tahun lalu angka stunting berada di 3,15 persen dengan jumlah balita yang diukur sebanyak 95.604, sementara tahun 2025 yang diukur 91.938 balita,” ujar Ria. Dalam siaran pers. Kamis (22/1/2026).
Menurutnya, faktor ekonomi diduga turut memengaruhi peningkatan kasus stunting, meskipun hingga kini belum ada penelitian spesifik yang mengaitkan langsung kondisi ekonomi daerah dengan lonjakan stunting di Bangka Belitung.
“Kondisi ekonomi berhubungan erat dengan kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan pangan dan gizi. Ketika daya beli melemah, risiko pemenuhan gizi keluarga ikut terganggu,” katanya.
Selain faktor ekonomi, Ria menegaskan pola asuh keluarga memiliki peran sangat penting dalam pencegahan stunting. Perilaku dan kebiasaan keluarga, mulai dari pemberian makanan bergizi, kebersihan lingkungan, hingga akses air bersih dan jamban sehat, menjadi penentu kualitas tumbuh kembang anak.
Lebih lanjut, Ria memaparkan hasil kajian peneliti Poltekkes Pangkalpinang dalam Program INEY Tahun 2025 yang mengidentifikasi sejumlah faktor determinan utama stunting di Bangka dan Pangkalpinang. Faktor pertama adalah siklus antar-generasi, di mana terdapat hubungan statistik yang sangat kuat antara tinggi badan ibu dengan kejadian stunting pada anak.
“Faktor kedua adalah penyakit diare. Prevalensi stunting pada balita yang mengalami diare dalam satu bulan terakhir mencapai 41,7 persen,” ungkapnya.
