FAKTA BERITA, PANGKALPINANG – Lonjakan harga telur dan ayam ras yang terjadi di sejumlah daerah termasuk Bangka Belitung belakangan ini dinilai sebagai dampak dari pelaksanaan serentak program Makan Bergizi (MBG). Kenaikan tersebut, menurut akademisi ekonomi, Dr. Suhardi, MSc, Ak, CA, merupakan konsekuensi alami dari lonjakan permintaan yang tidak diimbangi dengan peningkatan pasokan dalam waktu singkat.
“Ketika sekolah, SPPG, lembaga, dan pemerintah daerah menjalankan program MBG secara bersamaan dengan menu yang relatif seragam, permintaan terhadap telur dan ayam ras melonjak tajam. Sementara, rantai pasok tidak bisa menyesuaikan secepat itu karena siklus produksi unggas memerlukan waktu dan biaya pakan juga sedang tinggi,” jelas Suhardi. Rabu (12/11/2025).
Menurutnya, situasi di Bangka Belitung juga dipengaruhi oleh faktor ketergantungan pasokan dari luar daerah. Kondisi ini memperbesar tekanan permintaan dan mendorong penyesuaian harga yang lebih cepat di pasar lokal.
Suhardi menilai, dampak kenaikan harga ini paling terasa bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah.
“Kenaikan harga protein hewani mempersempit daya beli, membuat masyarakat berisiko menurunkan asupan gizi. Usaha kuliner kecil dan warung makan pun ikut terpukul karena bahan baku naik, sehingga harga jual makanan harian bisa ikut terdorong,” katanya.
