China mengakhiri dominasi tim senam artistik putri Amerika Serikat (AS) di Kejuaraan Dunia setelah merebut medali emas nomor beregu putri pada Rabu (21/10).
Penampilan gemilang di nomor balok keseimbangan menjadi kunci kemenangan China yang unggul tipis dalam final di Rotterdam.
Tim China yang diperkuat lima atlet mengumpulkan total nilai 165,764, mengungguli AS yang meraih 165,531. Hasil tersebut mengakhiri rentetan tujuh gelar juara dunia beregu putri yang diraih AS sejak 2011.
Medali emas itu menjadi gelar pertama China dalam kompetisi internasional besar sejak Olimpiade 2008. China juga kembali meraih emas beregu putri Kejuaraan Dunia untuk pertama kalinya sejak 2006.
Jepang menempati posisi ketiga untuk meraih medali pertamanya di podium Kejuaraan Dunia dalam 60 tahun, sedangkan Prancis finis di peringkat keempat.
AS sempat memimpin hampir dua poin setelah menjalani dua rotasi pertama dengan baik pada nomor lompat meja dan palang bertingkat.
Namun, keunggulan tersebut lenyap ketika kedua tim memasuki nomor balok keseimbangan.
China tampil sangat kuat pada alat yang mengharuskan pesenam menjaga keseimbangan di atas balok kayu selebar sekitar 10 sentimeter dengan ketinggian sekitar 1,2 meter dari lantai.
Penampilan Qinqin Ke dan Zhang Qingying membawa China mengambil alih posisi teratas. Zhang mencatat nilai 15,066, tertinggi di antara seluruh atlet pada semua nomor dalam kompetisi tersebut.
Peluang China semakin terbuka setelah Dulcy Caylor dari AS terjatuh saat melakukan pendaratan pada akhir penampilannya di balok keseimbangan.
Caylor menggantikan Hezly Rivera, peraih emas Olimpiade 2024 dan juara nasional dua kali, yang mundur pada akhir pekan karena cedera pergelangan kaki yang belum pulih.
China pun unggul lebih dari dua poin menjelang rotasi terakhir, yakni senam lantai. Penampilan solid Caylor, Claire Pease, dan Reese Esponda memberi tekanan kepada China.
Namun, para pesenam China mampu menghindari kesalahan besar yang bisa membuka jalan bagi AS untuk mempertahankan keunggulan.
Ketika nilai Qiu Qiyuan sebesar 12,833 muncul di papan skor, bendera China naik ke posisi teratas klasemen. Rekan-rekan setimnya langsung mengerumuninya untuk merayakan kemenangan.
Hasil tersebut menambah persaingan menuju Olimpiade Los Angeles 2028. Tim AS kali ini sebagian besar diperkuat atlet yang menjalani debut di panggung terbesar olahraga senam di luar Olimpiade.
Sejumlah bintang AS yang membantu tim meraih emas Olimpiade Paris 2024, termasuk juara serba bisa Olimpiade 2020 Suni Lee dan peraih dua emas Olimpiade Jade Carey, masih mengincar penampilan di Los Angeles.
Perhatian juga tertuju pada Simone Biles, juara serba bisa Olimpiade 2016 dan 2024 sekaligus pesenam putri paling berprestasi sepanjang sejarah.
Kepada Associated Press pada September, Biles mengatakan dirinya semakin dekat untuk mengambil keputusan mengenai masa depannya. Hasil final kali ini diperkirakan tidak meredakan spekulasi mengenai kemungkinan keikutsertaannya.
Sementara itu, Rusia yang berada di posisi ketiga kualifikasi justru kesulitan sejak awal dan finis keenam.
Mereka tampil tanpa sejumlah atlet berpengalaman, termasuk Angelina Melnikova, juara emas Olimpiade 2020 dan juara dunia serba bisa 2021, setelah beberapa atlet ditolak visanya oleh Belanda.
Rusia sempat memulai final dengan terjatuh pada palang bertingkat dan tidak mampu mengejar para pesaingnya.
Artikel Tag: olimpiade, los angeles 2028
Published by Seputarfakta.id at https://seputarfakta.id/olahraga-lain/china-akhiri-dominasi-as-raih-emas-beregu-putri-kejuaraan-dunia-senam
