10 Siswa SDN 15 Airgegas Ikuti Sekolah Sahabat HAM, Keterbatasan Internet Jadi Sorotan

SEPUTARFAKTA, BANGKA SELATAN — Program Sekolah Sahabat HAM yang digelar di SD Negeri 15 Airgegas tidak hanya menjadi ruang pendampingan belajar bagi siswa, tetapi juga mengungkap sejumlah persoalan dalam pemenuhan hak anak atas pendidikan, khususnya keterbatasan akses internet dan perangkat pembelajaran digital.

Sebanyak 10 siswa SD Negeri 15 Airgegas mengikuti program pendampingan belajar gratis yang digagas Penggerak HAM Desa Airbara, Sahli Sakiri, di Aula SD Negeri 15 Airgegas, Sabtu (10/10/2026).

Kegiatan tersebut difokuskan pada pendampingan kemampuan dasar membaca dan menghitung bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar. Selain itu, siswa mendapatkan edukasi mengenai nilai-nilai Hak Asasi Manusia (HAM) serta bahaya perundungan atau bullying.

Guru SD Negeri 15 Airgegas, Wana, menyambut baik pelaksanaan Sekolah Sahabat HAM. Menurutnya, pendampingan tambahan sangat membantu siswa yang masih mengalami kesulitan membaca dan membutuhkan perhatian khusus dalam proses pembelajaran.

Program tersebut sekaligus diarahkan untuk menciptakan pembelajaran yang ramah anak, inklusif dan memberikan kesempatan kepada setiap siswa berkembang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Dalam pendampingan, Sahli Sakiri memberikan materi membaca dan menghitung berdasarkan pemetaan permasalahan dari pihak sekolah. Pembelajaran dilakukan secara sederhana, bertahap dan disesuaikan dengan kemampuan siswa agar mereka dapat mengikuti proses belajar dengan nyaman.

Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dasar sekaligus membangun kepercayaan diri siswa. Anak-anak juga didorong agar tidak merasa malu atau takut ketika menghadapi kesulitan dalam belajar.

Edukasi HAM dan Pencegahan Bullying

Setelah pembelajaran dasar, kegiatan dilanjutkan dengan pengenalan nilai-nilai HAM menggunakan bahasa sederhana dan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Siswa diberikan pemahaman bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan, mendapatkan perlindungan, merasa aman, dihargai serta diperlakukan secara adil tanpa diskriminasi.

Mereka juga diajak membiasakan perilaku saling menghormati, menghargai perbedaan, membantu teman yang mengalami kesulitan serta tidak mengejek kekurangan orang lain.

Edukasi kemudian diarahkan pada pencegahan bullying di lingkungan sekolah. Siswa diperkenalkan dengan berbagai bentuk perundungan, seperti mengejek, menghina, memberikan julukan yang menyakiti, mengucilkan teman, mengancam hingga melakukan kekerasan.

Penggerak HAM menjelaskan bahwa perundungan dapat berdampak terhadap rasa percaya diri, kondisi emosional, hubungan pertemanan dan semangat belajar anak.

Karena itu, siswa didorong untuk tidak menjadi pelaku maupun ikut mendukung tindakan perundungan. Mereka juga diminta berani meminta bantuan kepada guru atau orang tua jika mengalami atau menyaksikan bullying.

Sesi tanya jawab interaktif kemudian dilakukan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan. Pertanyaan berkaitan dengan membaca dan menghitung, nilai-nilai HAM, sikap saling menghormati, serta contoh bullying dan cara mencegahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *