Berbasis Masyarakat, Nyungkur Tempilang Disiapkan Jadi Destinasi Budaya Andalan

FAKTA BERITA, BANGKA BARAT – Di tengah kekhawatiran masyarakat Tempilang terhadap menurunnya hasil tangkapan udang rebon yang dikhawatirkan mengancam keberlangsungan tradisi Nyungkur, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Bangka Barat justru melihat peluang besar untuk menjadikan tradisi tersebut sebagai ikon wisata budaya unggulan.

Kepala Disparbud Bangka Barat, Fachriansyah, mengatakan Nyungkur bukan sekadar tradisi menangkap udang rebon menggunakan alat sederhana bernama sungkur, melainkan warisan budaya khas masyarakat pesisir yang memiliki daya tarik tinggi bagi wisatawan.

“Kalau kami melihat di lapangan, Nyungkur memiliki potensi yang sangat besar sebagai wisata budaya. Tradisi ini tidak dimiliki semua daerah. Justru karena keunikannya itulah, Nyungkur mempunyai nilai jual yang tinggi sebagai atraksi wisata,” ujar Fachriansyah saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (16/7/2026).

Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan melalui festival atau kegiatan seremonial. Sebuah tradisi akan tetap hidup apabila mampu memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat yang menjaganya.

“Kalau tradisi itu mampu memberikan penghasilan kepada masyarakat, maka masyarakat sendiri yang akan menjaga dan mempertahankannya,” katanya.

Fachriansyah menjelaskan konsep pengembangan Nyungkur yang dirancang Disparbud mengusung wisata berbasis pengalaman (experiential tourism). Wisatawan nantinya tidak hanya datang untuk menyaksikan tradisi tersebut, tetapi ikut terlibat langsung dalam aktivitas masyarakat pesisir.

Melalui konsep itu, wisatawan dapat menginap di homestay milik warga, berangkat bersama nelayan sebelum matahari terbit, belajar menggunakan sungkur, menangkap udang rebon saat air laut surut, hingga mengolah hasil tangkapan menjadi terasi khas Tempilang.

“Bayangkan wisatawan datang ke Tempilang bukan hanya menikmati pantainya. Mereka ikut turun ke laut bersama nelayan, belajar menggunakan sungkur, menangkap udang rebon, kemudian menikmati hasil tangkapan yang diolah menjadi terasi khas Tempilang. Pengalaman seperti itu tidak bisa ditemukan di banyak tempat,” jelasnya.

Ia menilai tren pariwisata saat ini telah bergeser. Wisatawan tidak lagi hanya mencari destinasi yang indah untuk berfoto, tetapi lebih tertarik pada pengalaman autentik yang menghadirkan interaksi langsung dengan budaya lokal.

Konsep tersebut diyakini mampu memberikan efek berganda bagi perekonomian masyarakat. Kehadiran wisatawan akan mendorong berkembangnya usaha homestay, kuliner, jasa pemandu wisata, transportasi lokal, hingga penjualan produk UMKM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *