Pertumbuhan Babel Tak Inklusif, Sektor Bawah Tak Nikmati Stabilitas Ekonomi

FAKTA BERITA, PANGKALPINANG – Perekonomian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) pada akhir 2025 menunjukkan dinamika yang menarik. Di satu sisi, inflasi masih terkendali dan ekspor timah tetap menjadi penopang utama. Namun di sisi lain, daya beli petani dan produksi pangan mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, inflasi Babel pada Oktober 2025 mencapai 2,51 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan 0,49 persen secara bulanan (month to month/mtm) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 106,17. Angka ini relatif stabil, meski sejumlah komoditas kebutuhan pokok masih menjadi pemicu utama kenaikan harga.

Komoditas yang paling banyak menyumbang inflasi antara lain daging ayam ras, emas perhiasan, dan cabai merah. Kenaikan harga-harga ini dirasakan merata di hampir semua daerah, namun paling tinggi di Belitung Timur yang mencatat inflasi 3,33 persen (yoy).

Sementara di Bangka Barat, inflasi berada di angka 2,87 persen, dan Kota Pangkalpinang mencatat inflasi paling rendah, yakni 1,96 persen. Kondisi ini menggambarkan tekanan harga di wilayah pesisir dan sentra perdagangan masih cukup tinggi, terutama untuk bahan pangan segar.

Di tengah tren inflasi yang meningkat, sektor pertanian justru mengalami perlambatan. Nilai Tukar Petani (NTP) Babel pada Oktober 2025 turun tipis 0,06 persen menjadi 154,73. Artinya, kenaikan pendapatan petani dari hasil panen tidak sebanding dengan kenaikan biaya konsumsi dan produksi yang mereka tanggung.

BPS mencatat, indeks harga yang diterima petani memang naik 0,34 persen karena didorong harga lada, karet, dan ayam ras pedaging. Namun, indeks harga yang dibayar petani juga meningkat lebih tinggi, yaitu 0,41 persen — terutama akibat mahalnya harga daging ayam, ketimun, dan cabai merah.

Meski begitu, nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) masih menunjukkan perbaikan, naik 0,24 persen menjadi 152,76. Secara regional, Babel tetap berada di posisi keempat tertinggi di Sumatera, di bawah Bengkulu, Riau, dan Jambi.

Sementara itu, sektor perdagangan luar negeri tetap menjadi penggerak utama perekonomian daerah. Nilai ekspor Babel pada September 2025 tercatat sebesar US$173,95 juta. Meski turun 3,46 persen dibanding September tahun lalu, secara kumulatif (Januari–September 2025) ekspor justru melonjak 27,11 persen menjadi US$1,43 miliar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *