FAKTA BERITA, PANGKALPINANG –Panggilan “Cece” yang melekat pada sosok Dessy Ayutrisna, Calon Wakil Wali Kota Pangkalpinang, bukan sekadar sapaan akrab.
Di balik panggilan itu, tersimpan kisah tentang toleransi, keberagaman, dan kekuatan budaya yang menyatu dalam diri seorang perempuan muda yang kini ikut bertarung dalam Pilkada ulang Pangkalpinang 2025.
Dessy lahir dari keluarga multikultur: ayahnya keturunan Tionghoa (thong ngin), sedangkan ibunya berasal dari suku Melayu (fan ngin). Dalam budaya lokal, perpaduan dua etnis ini dikenal dengan istilah “thong ngin fan ngin jit jong” — yang berarti Tionghoa dan non-Tionghoa adalah setara.
“Panggilan Cece itu lahir dari kebiasaan teman-teman masa kecil saya. Karena memang ayah saya Thionghoa, dipanggil Cece itu sudah biasa. Tapi saya sendiri lahir dari ibu yang muslim. Bukan saya yang mualaf, ayah saya yang mualaf. Jadi dari kecil saya memang muslim,” jelas Dessy usai menghadiri undangan dari Anggota DPD RI Bahar Buahasan di Restoran Adok, Jumat malam. (25/7/2025).
Panggilan “Cece” pun akhirnya menjadi identitas sosial yang melekat pada Dessy. Ia melihatnya sebagai simbol penerimaan dan keberagaman yang khas Pangkalpinang. Di tengah masyarakat yang beragam suku dan agama, ia tumbuh dan diterima tanpa sekat-sekat perbedaan.
“ Saya tegaskan disini, entah kita Tionghoa atau Melayu, semua punya hak yang sama untuk membangun Pangkalpinang,” tegasnya.
Tidak lupa Dessy juga menegaskan pentingnya partisipasi publik dalam Pilkada ulang yang akan digelar. Menurutnya, anggaran besar yang telah disiapkan pemerintah untuk pesta demokrasi ini harus dijaga dengan ikut serta ke TPS.
“Saya sebelumnya anggota dewan, jadi tahu persis anggaran Pilkada ulang ini sangat besar. Jangan sia-siakan. Kita gunakan untuk memilih pemimpin terbaik, anak-anak Pangkalpinang sendiri,” ujarnya.
